Berpihak pada Perencanaan


  Rabu, 08 Februari 2017 Berita Ditjenpdtu

Perencanaan adalah 80 persen senjata menuju kesuksesan. Itulah yang selalu dipercaya Suprayoga Hadi. Pria yang kini menjabat Plt Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kementerian Desa) ini selalu berpijak pada perencanaan dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Suprayoga selalu yakin tidak ada istilah barang baru. Karena dari perencanaan, banyak hal yang bisa digali untuk mencari masukan-masukan dan terobosan baru. Itu pula yang menjadi kunci dirinya tak pernah merasa bosan dalam melakukan rutinitas pekerjaan.

"Saya selalu bilang di depan orang-orang, i was born as the planner. Kayak sekarang di Kementerian Desa ini, saya selalu menginisiasi bahwa perencanaan sebagai hal wajib untuk semua kegiatan. Itulah bedanya pelaksana sama perencana, kami selalu melihat dalam konteks banyak yang perlu dieksplorasi," katanya di Jakarta, baru-baru ini. 

Sejak kuliah, ia sudah memilih perencanaan sebagai bidang yang akan ditekuninya saat bekerja nanti. Pada 1983-1987, ia mengambil jurusan S1 pertanian di Universitas Lampung, dilanjutkan jurusan planologi di program pascasarjana ITB hingga tahun 1990. Setelah lulus, ia langsung masuk ke Bappenas.

Di Bappenas, kariernya terus berlanjut hingga di posisi kepala seksi (kasi) pada 1994, kemudian kasubdit pada 1996, kemudian direktur Daerah Tertinggal dan Kawasan Khusus di Bappenas pada 2005-2011. Kemudian kariernya berlanjut sebagai deputi bidang Pengembangan Daerah Khusus di Kementerian PDT sampai 2013. Setahun kemudian menjadi deputi bidang Pengembangan SDM di Kementerian PDT. Kemudian, baru Februari 2015 lalu ia ditunjuk selaku Plt dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa di Kementerian Desa.

"Pada 1998 sampai 2001 saya menempuh studi doktor bidang perencanaan dan studi pembangunan di University of Southern California, Los Angeles, AS. Jadi, boleh dibilang 20 tahun lebih saya berkecimpung di bidang perencanaan," kata pria kelahiran Jakarta, 30 Mei 1965 ini.

Bisa dibilang, Yoga sekeluarga adalah keluarga Bappenas. Istrinya juga menjadi direktur di Bappenas. Mendiang ayahnya, juga pensiunan Bappenas. “Saya mungkin bercermin dari bapak saya ya. Almarhum kebetulan bekas orang Bappenas juga. Jadi ini keluarga Bappenas memang," katanya.

Sang ayah juga menjadi sosok inspiratif. Budaya Jawa seperti nguwongke (menghargai dan memperlakukan manusia sebagaimana mestinya) dan empati (tepo seliro), selalu ia pegang teguh. "Bapak saya selalu mencontohkan budaya jawa, sampai saya punya stiker UN (United Ngayogyakarta) di netbook saya," katanya.

Jazz dan Karaoke
Yoga sangat mencintai pekejaan. Rasanya tidak berlebihan jika disebut workaholic. Bahkan akhir pekan pun, masih ada saja pekerjaannya. Tak heran, bekerja untuk ibadah, dan membantu sesama, adalah moto hidupnya. "Saya pikir kalau kami bekerja dengan benar, tulus, dan istikamah, ya yang namanya rezeki, nasib, dan karier, insya Allah akan datang sendiri," katanya.

Ia pernah terlibat pada saat penyusunan IDT (inpres desa tertinggal), P3DT (pembangunan sarana dan prasarana desa tertinggal), PPK (program pembangunan kecamatan), termasuk juga PNPM. Ia juga sudah mengunjungi tak kurang dari 150 kabupaten. "Jadi, dalam konteks refreshing itu pada saat penugasan ke daerah, yang penting ada privilese untuk kami menghadapi suasana yang beda atau suasana lain. Makanya, dengan teman-teman di daerah saya sudah bisa mingle (berbaur, Red) dan dekat," katanya.

Meski sibuk, Yoga selalu menyempatkan diri berolahraga serta jalan-jalan bersama tiga anak dan istrinya. “Ya masih sempat berenang di rumah sama anak-anak. Saya kan juga suka dengar musik jaz seperti Bob James, Forplay, David Benoa, itu semacam refreshing buat saya kalau capai. Ya, kadang dibela-belain nonton konser Java Jazz, saya enggak pernah absen. Waktu di AS juga sering. Saya juga hobi karaoke sama teman-teman kantor, kadang di Vista Sarinah, atau di Inul Pasar Festival," ceritanya.

Saat ini ia sudah cukup mensyukuri atas pencapaian hidupnya. Memilliki tiga anak yang masih sekolah SD, SMP, dan kuliah arsitektur di ITB, istri yang juga wanita karier, baginya more than enough. "Apa yang saya ingin sudah didapat. Istilahnya, saya orang yang lebih mensyukuri. Jadi, kalau ditanya mau apalagi, ya kami jalani saja hidup ini," pungkasnya