Tanah Mudah Erosi, Bondowoso Rentan Terhadap Bencana Longsor


  Selasa, 07 Nopember 2017 Berita Ditjenpdtu

YOGYAKARTA, ditjenpdtu.kemendesa.go.id – Kondisi wilayah menjadikan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap terjadinya bencana alam. Dalam Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) Kabupaten Bondowoso berada pada nomor urut 254 dengan skor 55 (tinggi). Tingkat kemiringan dan tekstur tanah yang sedemikian rupa, menjadi salah satu penyebab terjadinya erosi/longsor dan rendahnya jumlah cadangan air.

Hal itu dikatakan Ir. H. Kukuh Triyatmoko, MM, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Bondowoso, dalam presentasinya di acara Workshop Identifikasi Potensi Bencana Daerah Rawan Bencana di Hotel Santika Premiere, Jakarta, Selasa, 9 Agustus 2016. Acara yang diselenggarakan Direktorat Penanganan Daerah Rawan Bencana (PDRB), Kemendesa ini berlangsung pada 8-10 Agustus.

Ditambahkan oleh Kukuh, tanah yang mudah erosi itu seluas 46.974,2 ha atau 30,1 persen dapat dijumpai di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Bondowoso. “Adanya dua gunung berapi yang relatif masih aktif (Raung dan Ijen), menjadikan Kecamatan Sempol, Tlogosari, Sukosari dan Sumberwringin cukup rawan terhadap bencana vulkanis,” ujar Kukuh.
Sedangkan karakteristik daerah aliran sungai (DAS) Sampean yang menyempit di bagian hilir menjadikan beberapa kawasan (Klabang, Prajekan, Cermee dan Kabupaten Situbondo) menjadi rawan diterjang bencana banjir bandang.

Kabupaten Bondowoso berada pada tiga DAS, yaitu DAS Sampean, DAS Deluwang dan DAS Banyuputih (Kalipahit). Sebagian besar wilayah Kabupaten Bondowoso berada dalam DAS Sampean.

Terdapat 119 mata air yang tersebar di seluruh wilayah dan tiga sumber air panas di Kecamatan Sempol, yang sebagian besar sumber tersebut telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti air bersih, irigasi, perikanan, dan parwisata (chm)