Ditjen PDTU Cegah Konflik Dengan Gelar Festival Budaya dan Adat


  Jumat, 04 Mei 2018 Berita Ditjenpdtu

Aceh Singkil, ditjenpdtu.kemendesa.go.id - Matahari sudah tenggelam dan kegelapan malam mulai menyelimuti Kabupaten Aceh Singkil yang berada di pesisir barat pulau Sumatera. Namun gemerlap lampu alun-alun kabupaten seolah memecah kegelapan dan menjadikan daya tarik tersendiri untuk masyarakat setempat. Hal itu sangat kontras dengan suasana malam-malam yang sepi di Aceh Singkil. Masyarakat berduyun-duyun memenuhi sebuah lapangan besar di tengah kota. Sungguh suasana kebersamaan yang harmonis ditengah hiruk pikuk kehidupan sosial warga Aceh Singkil.

Seperti halnya dengan warga yang lain, Ibu Leni, salah satu warga asli Aceh Singkil datang bersama dengan keluarganya untuk menikmati kemeriahan acara pembukaan Festival Adat dan Budaya yang digelar sejak Jumat (27/4) s.d. Rabu mendatang (2/5). Selain untuk menikmati stand-stand yang ada, momen seperti ini digunakan warga sebagai ajang silaturahmi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya acara tahun ini sungguh sangat meriah dengan panggung yang sangat megah.

Bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Aceh Singkil yang jatuh pada tanggal 27 April, Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil bekerjasama dengan Direktorat Penanganan Daerah Pasca Konflik (PDPK), Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu (Ditjen PDTu), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggelar acara Festival Adat, Budaya dan Forum Perdamaian. Kegiatan ini sendiri merupakan program reguler dari Direktorat PDPK.

Ditemui di kegiatan, Teuku Chaerul selaku Panitia Penyelenggara mejabarkan bahwa festival ini merupakan ajang unjuk perdamaian. “Budaya dan adat diangkat dari masyarakat sebagai suatu kearifan lokal dan sumber hukum dalam masyarakat” ujar Teuku yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat Daerah Pasca Konflik Wilayah IV di Ditjen PDTu. Selain itu, dengan dilaksanakannya festival adat dan budaya bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sehingga dapat meredam konflik akibat kesenjangan ekonomi.

Penampilan band asli daerah dan tari-tarian khas Aceh Singkil seperti Tari Dampeng, Tari Saman, Tari Adok, Tari Tor-tor, Tari ambek-ambekan membuka acara ini. Festival ini dilaksanakan selama enam hari mulai dari tanggal 27 April sampai dengan 2 Mei mendatang. Berbagai kegiatan akan digelar seperti bakar ikan sebanyak 1 ton, pemecahan rekor MURI menulis Al-Quran selama 10 menit oleh 600 anak penghafal Al Quran, pemilihan duta lingkungan hidup dan penampilan seni budaya yang lain. Selain itu, hiburan juga mendatangkan musisi terkenal tanah air yang berasal dari tanah Sumatera yaitu Nanda dan Ipank.

Wakil Bupati Aceh Singkil, Sajali, menyampaikan harapan besar dengan diadakannya acara festival adat dan budaya ini. “Kesedihan yang terjadi menjadikan kita manusia yang mempunyai perasaan yang tinggi, mempunyai pertimbangan yang tinggi sehingga perdamaian yang kita harapkan persatuan dan kesatuan masyarakat untuk membangun Aceh Singkil yang tertinggal akan mudah dicapai” tegas Sajali. Festival ini sendiri dikatakannya akan menimbulkan gairah ditengah masyarakat Aceh Singkil untuk bekerja lebih giat dan berfikir positif untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan diantara berbagai etnis yang ada di Aceh Singkil.

Dengan kembalinya masyarakat kedalam kearifan lokal yang dimiliki akan memperkokoh kesatuan dan persatuan masyarakat sehingga tidak mudah terprofokasi oleh isu isu yang dapat menimbulkan konflik. Peningkatan ekonomi masyarakat akan mengurangi kesenjangan ekonomi yang seringkali menjadi sumber konflik dalam masyarakat. Diharapkan dengan terselenggaranya festival adat dan budaya di Aceh singkil dapat menguatkan nilai budaya lokal dan meningkatkan perekonomian masyarakat sehingga terciptalah perdamaian di Aceh Singkil. (WST/CHM)