Revitalisasi Pengembangan Daerah Tertentu di Era 4.0


  Kamis, 19 September 2019 Kegiatan Ditjenpdtu

Yogyakarta, 10 Juli 2019 – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu (Ditjen PDTu) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) hari ini. Kegiatan diselenggarakan untuk mendapatkan masukan dari para pakar-pakar akademisi dan praktisi dalam upaya revitalisasi pengembangan daerah tertentu di era 4.0 sebagai salah satu bidang tugas Kemendesa PDTT dalam pencapaian target kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 serta dalam rangka mendukung pencapaian kinerja Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025.

Focus Group Discussion ini dibuka oleh Dekan Fakultas Geografi, Muhamad Aris Marfai. Hadir juga untuk memberikan paparan kunci, Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Kemendesa PDTT, Aisyah Gamawati. Dalam paparannya Aisyah menyampaikan bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi di era 4.0 yang sangat cepat, dan dalam rangka menentukan pelaksanaan program dan kegiatan  yang berorientasi pada pertumbuhan dan pemerataan dalam kerangka pembangunan pada daerah pinggiran diperlukan penguatan dalam revitalisasi Pengembangan Daerah Tertentu agar sejalan dalam pelaksanaan RPJMN di tahun 2020-2024. Lebih lanjut, “Pemberian bantuan pemerintah berupa sarana dan prasarana sosial ekonomi dasar dan konektivitas dengan berbasis pada pengelolaan potensi sumber daya melalui mekanisme pemberdayaan masyarakat dan partisipasi masyarakat secara bertahap dan berkelanjutan”, ungkap Aisyah.

Dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, Kemendesa PDTT memiliki peran dalam mendukung pencapaian Nawa Cita Ketiga yaitu Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa. "Salah satu agenda strategisnya adalah mengawal dan mewujudkan pembangunan di daerah-daerah terluar, daerah paling pinggir dari wilayah NKRI dan khususnya daerah-daerah tertentu yang berupa penerapan praktek pemberdayaan masyarakat dan partisipasi masyarakat”, ujar Aisyah.

Focus Group Discussion di Universitas Gadjah Mada ini dihadiri lebih kurang 60 pakar dan akademisi dari kementerian dan lembaga, serta universitas mitra. Kegiatan diisi diskusi tentang peluang dan tantangan di era 4.0 yang akan dihadapi Ditjen PDTu. “Dalam hal perumusan konsep, pendekatan, strategi dan orientasi intervensi pengembangan daerah tertentu juga perlu memperhatikan aspek dimensi dan karakteristik kewilayah”, tambah Aisyah.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia (AP2I) Suprayoga Hadi selaku narasumber mengatakan pengembangan infrastuktur pengembangan wilayah dan kawasan ekonomi perlu dijadikan faktor percepatan dalam pengembangan daerah tertentu dengan memperhatikan era 4.0. “Pada era 4.0 yang berbasis industrialisasi global untuk memajukan perekonomian nasional, maka pembangunan kawasan perbatasan perlu lebih dipacu melalui investasi yang berdaya saing dan kompetitif dalam lingkup regional dan global, dengan memanfaatkan keunggulan komparatif dan kompetitif secara geografis wilayah perbatasan, termasuk mengoptimalkan potensi wilayah pulau kecil dan terluar,” ujar Suprayoga. (CHM/MIF)