Kemendes PDTT Gandeng Mahasiswa Borneo Bangun Perbatasan


  Selasa, 18 September 2018 Berita Ditjenpdtu

Tarakan, ditjenpdtu.kemendesa.go.id, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) hadir di Universitas Borneo (17/9) untuk berdialog bersama mahasiswa terkait dengan perbatasan.

Dalam dialog tersebut, hadir mewakili Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Endang Supriyani yang juga menjabat sebagai Direktur Pengembangan Daerah Perbatasan di Kemendes. Dalam pembukaannya Endang menyampaikan beberapa hal umumnya ada di benak masyarakat jika berbicara terkait wilayah perbatasan. “Kalau ngomong perbatasan pada umumnya dipandang sebagai wilayah yang paling ada di pinggiran, sulit dijangkau, transportasi susah, tidak ada sinyal handphone , tertinggal, dan terbelakang”. Namun menurutnya, saat ini semua sedang diubah. “Kita lakukan perubahan paradigma dalam memandang perbatasan”, tambah Endang.

Sesuai dengan nawacita ke tiga, saat ini Pemerintah tetap berupaya membangun semua wilayah Indonesia, khususnya yang berada di wilayah terdepan. “Kita lakukan melalui tiga strategi besar, pendekatan keamanan, pendekatan kesejahteraan dan pendekatan ekonomi agar lebih memiliki daya saing”, tegas Endang.

Endang membeberkan beberapa data yang sangat umum ditemui di mayoritas wilayah perbatasan. Mulai dari rendahnya tingkat elektrifikasi di wilayah perbatasan yang hanya sebesar 86.37% (rerata nasional 97%), tersedianya jalan beraspal hanya sebesar 43,29% (65,56%), sampai dengan akses pendidikan yang jauh dari standar pelayanan minimum yaitu kurang dari 3 km, dimana di kawasan perbatasan rata-rata sejauh 14 km.

Dana Desa Untuk Perbatasan

Untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi, sejak tahun 2015, Pemerintah sudah mengucurkan dana desa yang setiap tahunnya meningkat. Jika berkaca pada 2017 lalu, setiap desa menerima sekitar Rp. 800 juta untuk bidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desanya. “Jika kita hitung-hitung sederhana, ada 1700an Desa yang terletak di 187 lokasi prioritas (basis kecamatan) wilayah perbatasan, maka tahun lalu saja ada sekitar 1,3 triliun dana yang digelontorkan pusat untuk desa-desa tersebut”, ujar Endang.

Endang juga menambahkan bahwa, tidak hanya melalui instrumen dana desa, Kementerian Lembaga juga turut membangun infrastruktur dasar maupun pendukung di wilayah perbatasan. Untuk direktoratnya sendiri (Dit Perbatasan, Ditjen PDTu), pada tahun 2018 ini akan membangun jalan penghubung sepanjang 50 km, penyediaan elektrifikasi, penyediaan air bersih, serta peningkatan produk pertanian dengan penyediaan embung dan alat pengolah pasca panen untuk masyarakat perbatasan.

“Bicara propinsi Kalimantan Utara, untuk Kabupaten Nunukan, pada 2015 sampai dengan 2018 ini kita sudah gelontorkan lebih kurang 39 milyar dan untuk Malinau lebih kurang 16M ilyar yang bersumber dari DIPA Ditjen PDTu serta DAK afirmasi transportasi dalam bentuk infrastruktur  transportasi, air bersih, elektrifikasi dan penyediaan sarana pendidikan” terang Endang.

Endang pada penghujung dialognya kembali mengingatkan bahwa para mahasiswa sejatinya menjadi agen pembaharuan dan ujung tombak dalam membangun daerah perbatasan. Diharapkan Universitas Borneo dapat melakukan KKN tematik di daerah-daerah perbatasan untuk melakukan pemetaan potensi, menyusun program dan kegiatan desa dan menjadi motor penggerak untuk inovasi dan pemberdayaan masyarakat  “Kalian menjadi generasi pemimpin masa depan yang berasal dari tanah asli warga perbatasan, jadikan wilayah berkembang dan menjadi etalase yang cantik untuk dikunjungi “, tutup Endang.

Dialog menghadirkan Tenaga Pengajar dan Mahasiwa Universitas Borneo Tarakan. Kegiatan sendiri dilaksanakan oleh LPPN Universitas Borneo Tarakan diselenggarakan di Universitas Borneo Tarakan, pada Senin, 17 September 2018. (CHM/CHM)